Menurut Fiske, studi ini dengan jelas menggambarkan bahwa isyarat, dalam hal ini sebuah pronomina (kata ganti), dihubungkan pada acuannya melalui pikiran seorang pengguna. Jadi makna bergantung pada gambaran atau pikiran orang atau dalam hubungannya dengan isyarat dan objek yang diisyaratkan. Banayak teoritis semiotik telah meneliti dan memperluas ide dasar ini. (Fiske dalam Sobur, 2002:100)
Sekurang-kurangnya terdapat sembilan macam semiotik yang kita kenal sekarang, yaitu:
1. Semiotik analitik, yakni menganalisis sistem tanda. Pierce menyatakan, bahwa semiotik berobjekan tanda dan dapat menganalisisnya menjadi ide, objek, dan makna. Ide dapat dikatakan sebagai lambang, sedangkan makna adalah beban yang terdapat dalam lambang yang mengacu kepada objek tertentu.
2. Semiotik deskriptif, yakni memperhatikan sistem tanda yang dapat kita alami sekarang, meskipun ada tanda yang sejak dahulu tetap seperti yang disaksikan sekarang. Misalnya langit yang mendung mendakan bahwa hujan tidak akan lama lagi akan turun, dari dahulu hingga sekarang tetap saja seperti itu. Namun, dengan majunya ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni, telah banyak tanda yang diciptakan oleh manusia untuk memenuhi kebutuhannya.
3. Semiotik faunal (zoosemiotic), yakni semiotik yang khusus memperhatikan sistem tanda yang dihasilkan oleh hewan. Hewan biasanya menghasilkan tanda untuk berkomunikasi antara sesamanya, tetapi sering juga menghasilkan tanda yang dapat ditafsirkan oleh manusia.
4. semiotik kultural, yakni semiotik yang khusus menelaah sistem tanda yang berlaku dalam kebudayaan tertentu. Budaya yang terdapat dalam masyarakat yang juga merupakan sistem itu, menggunakan tanda-tanda tertentu yang membedakan dengan masyarakat yang lain.
5. Semiotik naratif, yakni semiotik yang menelaah sistem tanda dalam narasi yang berwujud mitos dan cerita lisan (folklore). Telah diketahui bahwa mitos dan cerita lisan, ada diantaranya memiliki nilai kultural tinggi.
6. Semiotik natural, yakni semiotik yang khusus menelaah sistem tanda yang dihasilkan oleh alam. Air sungai keruh menandakan dihulu telah turun hujan dan dedauanan pohon yang menguning lalu gugur.
7. Semiotik normatif, yakni semiotik yang khusus menelaah sistem tanda yang dibuat oleh manusia yang berwujud norma-norma, misalnya rambu lalu lintas.
8. Semiotik sosial, yakni semiotik yan khusus menelaah sistem tanda yang dihasilkan oleh manusia yang berwujud lambang, baik lambang yang berwujud kata maupun lambang yang berwujud kata dalam satuan yang disebut kalimat. Dengan kata lain, semiotik sosial menelaah sistem tanda yang terdapat dalam bahasa.
9. Semiotik struktural, yakni semiotik yang khusus menelaah sistem tanda yang di menifestasikan melalui struktur bahasa.
Selain itu didalam semiotik terdapat pula aliran semiotik konotasi yang di pelopori oleh Roland Barthes, aliran semiotik ekspansionis yang dipelepori oleh Julia Kristeva, dan aliran semiotik behavioris yang dipelopori oleh Moris (Sudjiman dan Zoest dalam Sobur, 2002:102). Para ahli semiotik aliran semiotik pada waktu menelaah sistem tanda tidak berpegang pada makna primer, tetapi mereka berusaha mendapatkannya melalui makna konotasi.
Sementara itu aliran ekspansionis melaksanakan telaah menggunakan konsep yang berlaku dalam psikoanalisis dan sosiologi ; sedangkan behavioris mengembangkan teori semiotik dengan jalan memanfaatkan pandangan yang berlaku dalam psikologi (misalnya pandangan Skinner) yang tentu saja berpengaruh dalam dunia linguistik. Kaum behavioris dalam linguistik membahas bahasa sebagai siklus stimuli, respon yang jika ditelaah dari segi semiotik adalah persoalan sistem tanda yang berproses pada pengirim dan penerima (Pateda dalam Sobur, 2002:102).